Archive for the ‘ARTIKEL’ Category

Puasa Dapat Menunda Penuaan

Saturday, September 12th, 2009

Dr.H.M.Edial Sanif, SpJP,FIHA
Puasa di bulan Ramadan merupakan perintah Agama (Islam-Red), Dan,jika dilakukan secara benar sesuai pedoman, puasa Ramadan dapat menunda penuaan. Dengan berpuasa atau mengurangi masukan kalori serta mencegah tubuh kemasukan zat makanan yang berbahaya, berakibat memperlambat usia penuaan. Hal ini   memperpanjang usia harapan hidup.
Saat berpuasa terjadi penurunan tekanan darah, berat badan dan denyut jantung. Begitu juga dengan beberapa jenis hormon seperti; hormon tiroid (T3,T4), Insulin (Kadar insulin turun, namun kerja insulin yang ada, lebih efektif). Selain itu respon tubuh juga lebih baik terhadap insulin, sehingga kadar gula darah turun selama puasa. Terdapat peningkatan beberapa jenis hormon, seperti Human Growth Hormon (HGH), yang dikenal sebagai hormon awet muda. Dimana hormon ini akan meningkatkan regenerasi sel,peremajaan sel-sel tubuh sehingga seseorang akan lebih muda.
Bagi mereka yang mengalami gangguan tidur dan stres, maka dengan berpuasa, terjadi peningkatan hormon Melatonin, yang dapat membantu mengatasi problem tidur, dapat megurangi stres. Selain itu Melatonin merupakan hormon anti penuaan, sehingga anda terlihat dan merasa lebih muda, dapat mencegah terjadinya kanker dan kepikunan (Alzheimer’s). Kemudian  dapat memicu peningkatan hormon pertumbuhan (HGH=Human Growth Hormon),yang merupakan hormon utama dalam pemudaan sel.
Daya tahan tubuh juga meningkat yang ditandai dengan meningkatnya fungsi hormon immun, terutama limfosit –T dan Limfokin. meningkatnya kadar imunoglobulin, meningkatnya sel pembunuh sel kanker (natural killer cell activity, sebagai dasar bagi para  ahli yang memakai metode Puasa untuk terapi kanker), meningkatnya kadar monosit yang  dapat membunuh bakteri, serta meningkatkan  daya tahan tubuh terhadap  infeksi.
Obati alergi
Bagi mereka yang menderita alergi juga akan membaik, karena selama berpuasa akan terjadi penigkatan hormon cortisol, glucagon dan norepinefrin disamping peningkatan fungsi hormon immun tersebut diatas, yang kesemuanya dapat mengurangi atau mengobati alergi.
Penelitian  dilakukan  di Rusia oleh seorang ahli Biokimia yang bernama Fladimir Nikitin, yang melakukan penelitian pada tikus. Sekelompok tikus yang mempunyai usia rata-rata  dua setengah tahun, setelah tidak diberimakan beberapa saat (berpuasa), maka akan mempunyai umur lebih panjang menjadi rata-rata 4 tahun, dibanding dengan kelompok tikus yang tidak puasa, tetap berusia sekitar dua setengah tahun. Pada  penelitian tesebut disimpulkan bahwa dengan berpuasa  proses penuaan dapat ditunda.  
Berpuasa ternyata juga dapat meningkatkan hormon produksi. Penelitian yang dilakukan di Amerika terhadap sekelompok ayam petelur yang tidak produktif lagi, setelah tidak diberi makan beberapa hari, lalu diberi makan seperti biasanya, ternyata dapat bertelor kembali dalam waktu yang lebih singkat dan jumlah telor lebih banyak dari biasanya.
Dari uraian diatas, terlihat jelas bahwa  bagi mereka yang melaksanakan puasa Ramadan sesuai pedoman  yang tepat, tentu akan dapat menunda penuaan, badan dan jiwa yang sehat. Namun demikian niat puasa Ramadan jangan dibelokkan, harus dikembalikan sesuai tuntunan agama yaitu karena Allah SWT.  Tulisan terkait klik disini

 

 

Pentingnya Komposisi Menu Sahur

Sunday, September 6th, 2009


                                    Puasa Ramadan berbeda dengan puasa starvasi (Starvation). Stavation  yaitu puasa dengan tidak makan dan minum sama sekali, dimana para pakar membagi starvasi ini menjadi dua kelompok yaitu : short fasts, puasa sekitar 48 jam atau kurang dan long fasts, yaitu puasa total lebih dari 48 jam).  Puasa ramadan kecukupan gizi dan kebutuhan tubuh lainnya tetap terpelihara pada batas dasar minimal, sehingga tubuh masih dapat mentoleransi saat  berpuasa dan justru akan menyehatkan badan. Sedangkan puasa Starvasi, kecupukan gizi, cairan dan lain-lainnya  tidak ada sama sekali, sehingga tubuh tidak mampu mentoleransi keadaan tersebut yang berakibat terjadinya gangguan kesehatan.  Bila waktu sahur diakir batas waktu  yaitu  saat mendekati  imsak, berarti  menunda sarapan pagi sekitar 2 sampai 3 jam bila dibanding bulan lainnya diluar Ramadan. Pada sebagian besar masyarakat  umumnya lebih memperhatikan menu saat buka puasa.  Perhatian tertuju apa jenis dan macam makanan yang akan disajikan saat buka puasa. Semuanya menginginkan makanan yang enak saat buka puasa. Kondisi ini berbeda dengan  makan atau menu saat sahur. Jarang yang menanyakan menu sahur besok pagi apa..?, Semua menyerahkan pada ibu rumah tangga. Yang penting ada makanan. Padahal menu saat sahur sangat penting diperhatikan agar kondisi kesehatan tetap terjaga dan badan  bugar saat menjalankan ibadah puasa.

Kebutuhan tubuh.

               Terdapat tiga  prinsip dasar menu saat puasa, yaitu cukup kalori, cukup gizi dan  cukup cairan. Perbedaan mendasar dengan kondisi diluar ramadan (tidak berpuasa) yaitu  saat berpuasa   waktu makan yang diubah. Waktu makan saat puasa yaitu saat magrib sampai imsak (makan ,hanya diperbolehkan pada malam hari). Sedangkan jika tidak berpuasa, waktu makan dapat dilakukan pada siang dan malam hari. Jumlah makanan mungkin saja sama, namun dianjurkan tidak boleh berlebihan, cukup kalori dan gizi  serta  cukup cairan  sebagai kebutuhan dasar tubuh. Saat berpuasa tubuh diberi kesempatan beristirahat , yaitu bagi sistim pencernaan, sitim kardiovaskuler, sisitim saraf, sistim hormon dan sistim lainnya,  waktu istirahat ini tidak kita jumpai jika  tidak berpuasa. Cukup kalori, yaitu kalori yang berasal dari nasi,gandum,jagung. Sedangkan gula atau makanan,minuman manis dihindari saat sahur, karena  kalori yang berasal dari gula akan habis dalam waktu singkat  3 sampai  4 jam (akan cepat timbul rasa lapar), Kalori yang berasal dari lemak bisa mencapai 12 sampai 24 jam. Sedangkan kalori yang berasal dari protein bisa mencapai 30 jam lebih. Selain itu makanan yang manis akan menurunkan napsu makan. Waktu berbuka justru dianjurkan makan/minum yang manis terlebih dahulu, karena  gula/manisan tersebut langsung dapat dipakai tubuh, sehingga rasa lapar segera teratasi). Sebaiknya waktu sahur makan makanan yang berasal dari karbohidrat (nasi,jagung,gandum),  kalori dari  lemak (lemak dibatasi), makan sumber kalori dari protein (daging ikan,ayam,sapi dll), jangan lupa makan sayur-sayuran (bayam,daun singkong,bayam,wortel,dan lain-lain. Begitu juga jangan lupa buah-buahan (pisang, apel,jeruk,pepaya,mangga,dan lainnya). Minum sebaiknya air putih (minum kopi,teh, akan meningkatkan pengeluaran cairan melalui air seni/urin), sehingga akan mempercepat rasa haus karena tubuh mulai kekurangan cairan. Minum minimal empat gelas saat sahur. Lalu empat  sampai lima gelas saat berbuka sampai sebelum tidur. Dengan demikian menu saat sahur sangat diperlukan agar kecukupan kalori, kecukupan gizi dan kecukupan cairan dapat terpenuhi selama berpuasa. Tulisan sejenis Klik disini

 

 

 

Tags (separate multiple tags with commas: cats, pet food, dogs)

Tags (comma separated list)

Add existing tag:

Tag Suggestions (Courtesy of Yahoo!)

 

 

 

Optional Excerpt

 

BIOMARKER DALAM GAGAL JANTUNG

Tuesday, July 14th, 2009

            Gagal jantung, salah satu masalah kesehatan masyarakat utama dan terus berkembang, timbul bukan hanya dari kelebihan beban jatung ataupun cedera jantung tetapi juga dari keterlibatan beberapa faktor antara genetic, neurohormonal, inflamasi, dan perubahan biokimia yang berperan pada sel miosit jantung, interstitium jantung, ataupn keduanya. Kenaikan jumlah beberapa enzim, hormone, substansi biologi, dan penanda lain seperti stress dan malfungsi jantung, termasuk cedera sel miosit, secara kolektif disebut Biomarker, tampak memiliki kepentingan klinis yang terus berkembang. Walaupun biomarker mencakup varian genetic, gambaran klinis, tes faal, dan biopsy jaringan, bahasan ini hanya terfokus pada biomarker yang didapat dari darah ataupun urin selain dari level serum Hemoglobin, elektrolit, enzim hati, dan kreatinin, yang secara rutin digunakan dalam praktek pelayanan klinis.

           

            Morow dan De Lemos telah menetapkan tiga criteria yang harus dipenuhi biomarker agar dapat bermanfaat secara klinis. Pertama, akurat, Pengukuran ulang harus dapat dilakukan oleh para klinisi dengan harga yang terjangkau dan dalam waktu yang singkat ; Kedua, Biomarker harus menyediakan informasi yang tidak dapat ditemukan dengan pemeriksaan klinis yang teliti ; Dan yang terakhir, mengetahuinya ( biomarker ) harus dapat membantu dalam penegakan keputusan medis.

            Meskipun sedikt dari Biomarker yang dibahas memenuhi criteria tersebut, namun kebanyakan terbukti memberikan informasi penting menyangkut masalah patogenesis dari gagal jantung atau proses identifikasi subjek dengan resiko gagal jantung ataupun tampak berguna dalam stratifikasi resiko gagal jantung, dalam penegakan diagnosis gagal jantung, ataupun dalam pengawasan terapi. Banyak dari Biomarker itu sendiri  juga merupakan faktor resiko, dan dengan begitu menjadi salah satu target terapi yang potensial. Walaupun tak ada klasifikasi spesifik untuk biomarker yang dapat diterima, saya mengajukan mereka dibagi dalam enam kategori, termasuk kategori ketujuh yaitu Biomarker terbaru yang belum terkarakteristik secara utuh.

 

  1. INFLAMASI

Inflamasi penting dalam hal patognesis dan dan perkembangan pada banyak jenis dari gagal jantung, dan biomarker dari inflamasi telah menjadi subjek dalam penelitian yang intensif. Ketertarikan pada keberadaan mediator inflamasi pada pasien dengan gagal jantung dimulai pada tahun 1954, saat essay mengenai C – reaktif protein, protein yang timbul dalam serum pada berbagai kondisi inflamasi, telah tersedia. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 1956 melaporkan bahwa C-reaktif protein dapat dideteksi pada 30-40 pasien dengan gagal jantung kronik dan gagal janung akan menjadi lebih parah pada pasien dengan jumlah c-protein yang tinggi. Dengan begitu, C-reaktif protein didefinisikan sebagai reaktan fase akut yang disintesis oleh hepatosit sebagai respon pada sitokin interleukin-6 proinflamasi. Penggunaan c-reaktif protein sebagai biomarker semakin umum dengan dikembangkannya tes c-reaktif protein yang murah dan tinggi sensitiftasnya Berbagai analisis menunjukkan bahwa kenaikan c-reaktif protein merupakan predictor tunggal pada hasil akhir dari pasien dengan gagal jantung akut maupun kronis. Dalam Studi Jantung Framingham, sebagai contoh, C-reaktif protein ( termasuk sitokin interleukin-6 dan TNF α ) tercatat sebagai pengidentifikasi subjek lansia tanpa gejala tetapi memiliki resiko tinggi.

Selanjutnya, C-reaktif protein telah menunjukkan memberi efek langsung pada endotel pembuluh darah dengan mengurangi pelepasan nitrit-oksida dan meningkatkan produksi endothelin-1, dengan begitu menginduksi timbulnya molekul adhesi dari endotel. Penemuan ini menunjukkan bahwa C-reaktif protein kemungkinan besar memiliki peran penting dalam penyakit vascular dan dengan begitu dapat menjadi target terapi. Meskipun begitu, Kenaikan jumlah C-reaktif protein kurang spesifik ; contohnya, infeksi akut dan kronik, merokok, sindrom koroner akut, dan tahap inflamasi aktif semuanya dihubungkan dengan kenaikan jumlah dari C-reaktif protein.

 

Pada tahun 1990, Levine dkk, mendeskripsikan kenaikan jumlah dari TNF α pada pasien dengan gagal jantung. TNF α dan paling sedikit tiga interleukin ( interleukin 1, 6, 8 )  diangggap sebagai sitokin proinflamasi  yangdihasilkan oleh sel berinti dalam jantung. Hipotesis sitokin menyatakan bahwa kejadian presipitasi- seperti cedera jantung iskemik- memicu respon stress, termasuk elaborasi dari dari sitokin proinflamasi, dan efek dari sitokin ini berhubungan dengan efek hilangnya fungsi dari ventrikel kiri dan memacu progresivitas dari gagal jantung. Sitokin proinflamasi ini merupakan penyebab dari apoptosis miosit an nekrosis ; interleukin-6 menginduksi respon hipertrofi pada miosit, dan TNF α menyebabkan dilatasi ventrikel kiri, tampaknya dari aktivasi jaringan metalloproteinase. Interleukin-6 dan TNF α dapat menjadi alat perkiraan perkembangan gagal jantung pada subjek lansia tanpa gejala dalam studi dengan melihat kadarnya, walaupun penghambatan dari TNF α tidak memberi keuntungan klinis bagi pasien dengan gagal jantung.

Fas ( atau disebut juga APO-1) merupakan anggota dari  reseptor TNF α yang tampak pada berbgai sel, termasuk miosit. Saat Fas diaktivasi oleh Ligand Fas akan menjadi mediasi terjadinya apoptosis dan memainkan peran penting pada perkembangan dan progresifitas  gagal jantung. Peningkatan serum dari bentuk Fas yang soluble telah dilaporkan pada pasien dengan gagal jantung, dan semakin tinggi dihubiungkan dengan keparahan penyakit. Inhibisi dari Fas yang soluble pada hewan menurangi remodeling ventrikel  post infark dan meningkatkan ketahanan hidup. Upaya farmakologis dalam mengurangi kadar Fas masih dalam penelitian tetapi dapat menjadi petunjuk baru dalam terapi gagal jantung maupun pencegahannya. Dan benar, pemasukan dari agen imunoodulating nonspesifik- pentoxifilin atau Ig iv- mengurangi kadar plasma dari Fas dan juga C-reaktif protein dan dilapokan memberi perbaikan pada fungsi ventrikel kiri pada pasien dengan iskemik atau kardiomiopati dilatasi.

 

Dengan begitu, pengukuran dari C-reaktif protein, sitokin inflamasi, Fas, dan reseptor solublenya, meberikan manfaat dalam stratifikasi resiko pada pasien dengan gagal jantung dan dalam pemantauan subjek tanpa gejala dengan resiko tinggi gagal jantung. Selanjutnya, profil dari perubahan biomarker inflamasi akan dapat membantu untuk mengenal gangguan inflamasi spesifik pada pasien apapun dan dengan begitu dapat memilih terapi yang sesuai dan tepat.  

  1. STRES OKSIDATIF

Peningkatan stress oksidatif yang didapat dari ketidakseimbangan antara jenis oksigen reaktif ( termasuk anion super oksida, hydrogen peroksida, dan radikal hidroksil ) dan mekanisme pertahanan antioksidan dalam tubuh. Ketidakseimbangan dapat menyebabkan efek hilangnya fungsi endotel termasuk dalam patogenesis dan dan progresifitas dalam gagal jantung. Stres oksidatif dapat merusak protein selular dan menyebabkan apoptosis miosit dan nekrosis. Dan juga dihubungkan dengan aritmia dan disfungsi endothelial, dengan disfungsi yang terjadi melalui reduksi aktivitas sintesis nitrit oksida termasuk inaktivasi dari nitrit oksida. Aktivasi imun dan inflamasi, Aktivasi dari sistem RAA dan sistem saraf simpatis,dan penigkatan kadar sirkulasi katekolamin dan juga peroksinitrit yang terbentuk dari interaksi anion superoksida dan nitrit oksida semuanya dapat meningkatkan stress oksidatif.

 

Karena sulitnya mengukur jenis oksigen reaktif secara langsung pada manusia, Penanda tak langsung telah ditemukan. Termasuk didalamnya Plasma-oksidasi-low density lipoprotein, malondialdehid, dan myeloperoksidase ( Index dari aktivasi leukosit ), Kadar biopyrrin dalam urin ( metabolit oksidatif dari bilirubin ) , dan kadar isoprostane dalam plasma dan urin. Kadar dari myeloperoksidase plasma dan ekskresi isoprostane berhubungan dengan keparahan dari gagal jantung dan merupakan predictor tunggal pada kematian akibat gagal jantung, bahkan setelah penyesuaian variable dasar. Ekskresi dari8-isoprostane dalam urin berhubungan dengan kadar jaringan metalloproteinase dalam plasma, yang dalam kadar tinggi dapat memacu remodeling ventrikel dan meningatkan keparahan dari gagal jantung.

Telah ada bukti-bukti yang semakin kuat bahwa xantin oksidase, yang mengkatalisasi produksi dari dua oksidan yaitu hipoxantin dan xantin, memainkan peranan patologis dalam gagal jantung. Produksi asam urat meningkat sejalan dengan peningkatan aktivitas xantin oksidase. Peningkatan asam urat berhubungan dengan hemodinamik yang tidak seimbang dan secara tunggal memperkirakan prognosis lanjut dalam gagal jantung. Meskipun studi lanjut dibutuhkan, namun asam urat terbukti sederhana, bermanfaat, nonspesifik albeit, sebagai indicator klinis untuk stress oksidatif

 

  1. REMODELING MATRIKS EKSTRASELULER

Remodeling dari ventrikel memainkan peranan penting dalam progresifitas gagal jantung. Jaringan ekstraseluler berfungsi sebagai “ tulang “ untuk sel miosit dan bentuk dan ukuran miosit. Normalnya, terdapat keseimbangan antara matriks metalloproteinase ( enzim proteolitik yang mendegradasi kolagen fibril ) dengan jaringan inhibisi dari metalloproteinase. Ketidakseimbangan, dengan dominansi dari jaringan metalloproteinase disbanding dengan jaingan inhibisinya dihubungkan dengan dilatasi dan remodeling ventrikel. Peningkatan abnormal pada sintesis kolagen juga dapat menyebabkan hilangnya fungsi jantung akibat fibrosis berlebihan akan mengganggu fungsi ventrikel. Propeptide prokolagen tipe I merupakan biomarker serum dari biosintesis kolagen. Querejeta dkk, mendapatkan korelasi positif antara kadar serum propeptide prokolagen tipe I dengan volume fraksi dari jaringan fibrous yang didapat dari biopsy jantung pada pasien dengan hipertensi esensial. Cicoira dkk, melaporkan bahwa kadar plasma prokolagen tipe III pada pasien dengan gagal jantung merupakan predictor tunggal untuk mengetahui gambaran hasil akhirnya.

Dengan begitu, Peningkatan dari penanda meningkatnya pemecahan jaringan ekstraseluler dan juga sitesis berlebihan dari kolagen dihubungkan dengan penrunan fungsi ventrikel kiri dan memberi gambaran klinis hasil akhir dari pasien dengan gagal jantung. Marker dari proses ini menjadi target terapi yang penting. Meskipun begitu, ada sedikitnya 15 jaringan metalloproteinase dan beberapa bentuk prokolagen dan jaringan inhibisi metalloproteinase yang telah dikenal. Mana dari semua itu yang memberikan informasi dan sesuai untuk peneriksaan rutn masih perlu klarifikasi.

 

  1. NEUROHORMON

Di awal tahun 1960an dilaporkan pasien dengan gagal jantung mempunyai peningkatan abnormal dari kadar norepinefrin plasma satat istirahat dan lebih tinggi lagi saat olahraga. Ekskresi NE lewat urin juga menngkat. Penemuan ini menunjukkan bahwa sistem saraf simpatis diaktivasi pada pasien dengan gagal jantung dan gangguan neurohormonal memainkan peranan patogenesis pada gagal jantung. Cohn dkk, Menunjukkan bahwa kadar NE plasma merupakan predictor tunggal dari kematian. Swedberg dkk, membuat penemuan penting yaitu pada Sistem RAA yang diaktivasi pada pasien gagal jantung.

Maka, setelah penemuan itu, perhatian difokuska pada Endotelin 1 besar, sebuah prohormon 39-asam-amio yang disekresi oleh sel endotel vaskuler yang dikonversi dalam sirkulasi menjadi neurohormon aktif Endothelin 1, atau disebut juga hormone peptide 21 asam amino. Endothelin satu merupakan stimulant yang kuat untuk kontraksi otot halus vaskuler dan proliferasinya, fibrosis ventrikel dan pembuluh darah, dan potensiator untuk neurohormo yang lain. Kadar plasma dari keduanya baik Endotheln 1 dan Endothelin satu besar meningat pada pasien dengan gagal jantung dan dihubungka secara langsung dengan tekanan arteri pulmonalis, keparahan penyakit, dan kematian. Investigator Valsartan Heart Failure Trial ( ValHeFT ) membandingkan ketepatan prognosis dari berbagai neurohormon pada 4300 pasien. Dan predictor paling kuat untuk kematian dan hospitalisasi untuk gagal jantung, setelah BNP adalah Endhotelin 1 besar, NE, Endhotelin 1, Aktivitas rennin plasma, dan aldosteron. Meskipun begitu percobaan yang melibatkan beberapa antagonis endhotelin 1 reseptor telah gagal memberikan efek klinis yang menguntungkan pada hasil akhir penyakit.

           

Pada Randomized Aldacton Evaluation Study (RALES) pada pasien dengan gagal jantung yang severe, Zaned dkk, menemukan dengan injeksi aldosteron bloker, spironolakton, dihubungkan dengan reduksi dari plasma prokolagen tipe III dan memiliki manfaat klinis, tetapi hanya pada pasien dengan kadar dasar prokolagen tipe III yang diatas median. Administrasi dari spironolakton pada pasien dengan infark miokard akut menurunkan sintesis kolagen miokard, dengan gambaran plasma prokolagen tipe III, termasuk juga pada remodeling ventrikuler kiri post infark. Bila digabung, maka penemuan tersebut menunjukkan dengan membatasi sintesis dari jaringan ekstraseluler menjadi kompenen penting dalam manfaat penggunaan spironolakton pada pasien dengan gagal jantung severe

Arginin vasopressin merupakan nonapeptide yang disintesis di hipotalamus dan disimpan di glandula pituitary posterior dan memiliki efek antidiuretik dan vasokonstriktor. Pelepasan berlebihan dari arginin vasopressin memperberat gagal jantung dihubungkan dengan dilusi hiponatremi, akumulasi cairan, dan sistemik vasokonstriksi. Dimana kadar arginin vaopresin plasma meningkat pada pasien dengan gaal jantung akut dan kronik dan berhubungan dengan hasil akhir klinis yang buruk, Blok dari vasopressin 2 reseptor menghilangkan gejala akut tetapi tidak mengubah perjalanan penyakit gagal jantung severe. Dengan begitu, masih belum jelas apakah reseptor tersebut dapat menjadi target terapi.

 

  1. CEDERA MIOSIT

Merupakan akibat dari iskemia berat, tetapi juga dapat merupakan akibat dari stress pada miokardium seperti, inflamasi, stress oksidatif, dan neurohormonal aktivasi. Selama dua decade terakhir, protein myofibril-Troponin T dan I- telah timbul sebagai penanda sensitive dan spesifik untuk cedera miosit dan telah membantu dalam diagnosa, stratifikasi resiko, dan perawatan pasien dengan sindrom koroner akut.

 

Kenaikan ringan dari cardiac troponin juga ditemua pada pasien dengan gagal jantung tanpa iskemia. Horwich dkk, melaporkan Troponin jantung I terdeteksi ( ≥ 0.04 ng per mililter ) dalam hampir setengah  dari 240 pasien dengan gagal jantung kronis lanjuttanpa iskemia. Stelah penyesuaian dengan beberapa faktor yang berkaitan dengan prognosis yang buruk, keberadaan Troponin I tetap menjadi prediktor tunggal untuk kematian.

Troponin T yang kadarnya lebih dari 0.02 ng per milliliter pada pasien dengan gagal jantung kronik dihubungkan dengan rasio kematian diatas 4. Peacock dkk, melaporkan pengukuran troponin merupaka predictor dari hasil akhir pasien yang di hospitalisasi dengan gagal jantung akut dekompensata. Latini dkk, menemukan dengan assay standard troponin T ditemukan pada 10% pasien dengan dengan gagal jantung kronis, tetapi dengan assay baru dengan sensitifitas tinggi dapat dideteksi pada 92% pasien. Setelah penyesuaian denan variable dasar dan kadar BNP, deteksi dari troponin T dengan menggunakan assay dengan sensitifitas tinggi dihubungkan dengan naiknya resiko kematian. Studi ini menunjukkan bahwa kadar Troponin T memberikan informasi penting mengenai prognosis. Dengan berkembangnya sensitifitas dari analisa Troponin, maka biomarker ini akan dapat dideteksi pada seluruh populasi dan sejalan dengan natiuretik peptide dapat digunakan rutin unutk prognosis dan respon terapi pasien gagal jantung.

 

Protein jantung yang lain seperti – Miosin light chain 1,Heart fatty-acid binding protein, dan fraksi kretinin kinase MB- juga bersirkulasi pada pasien dengan gagal jantung severe. Seperti halnya Troponin T, keberadaan proten miokard dalam serum merupakan predictor akurat untuk kematian dan hospitalisasi pasien dengan gagal jantung. Selanjutnya perlu dibandingkan antara keduanya untuk membuktikan keakuratannya.

  1. STRES MIOSIT

Brain NatriuretcPeptide

Disintesis di miosit. BNP dilepas saat terjadi stress hemodinamik seperti Dilatasi ventrikel, Hipertrofi, ataupun keneikan tekanan dinding jantung. BNP dapat menyebabkan vasodilatasi arteri, diuresis, dan natriuresis, dan mengurangi aktivitas sistem RAA dan saraf simpatis sehingga merupakan kompensasi dari abnormalitas faal pada gagal jantung.

 

Merupakan salah satu biomarker yang banyak di tes pada pasien gagal jantung karena keakuratannya paling tinggi di banding yang lain Diekskresi lewat ginjal, sehingga terdapat peningkatan kadar pada gangguan ginjal termasuk gagal ginjal. Juga terdapat peningkatan berkaitan dengan umur diduga berhubungan dengan fibrosis miokard atau disfungsi renal. Dan juga terjadi peningkatan pada hipertensi pulmonal. Maka semua hal ini harus diperhitungkan dalam pengukuran BNP.

 

BNP juga terbukti bermakna dalam evaluasi pasien dengan dyspneau berkaitan dengan penentuan manajemen penanganan pasien lebih lanjut. BNP jua merupakan predictor akurat untuk ketahanan hidup pasien dengan gagal jantung akut dekompensata.

 

BNP juga merupakan target terapi karena dengan rendahnya kadar akan mengurangi resiko kematian disbanding dengan yang memiliki kadar BNP tinggi. BNP juga berguna untuk skrining pasien resiko tinggi tanpa gejala.

Adrenomedulin

Disintesa dan terdapat pada jantung, medulla adrenal, dan ginjal. Merupaka vasodilator yang poten dengan efek inotropik dan natriuretic, produksinya dirangsang oleh tekanan cardiac dan volume overload. Meningkat pada pasien dengan gagal jantung dan lebih tinggi lagi pada gagal jantung severe.

 

ST2

Diinduksi dan dilepas oleh sel miosit yang teregang. Dapat menekan produksi sitokin inflamasi. Merupakan predictor kematian yang kuat.

 

  1. BIOMARKER TERBARU

Chromogranin A

Hormon polypeptida yang dihasilkan oleh miokardium yang memiliki efek inotropik negative.

Galectin 3

Protei yang dihasilkan oleh aktivasi makrofag

Osteoprotegerin

Bagian dari TNF reseptor yang memiliki kaitan dengan perkembangan disfungsi ventrikel kiri.

Lain-lain

Adinopectin, berkaitan dengan index massa tubuh

Growth differentiation factor 15.

 Artikel sejenis : klik disini

 

Hindari Meningkatnya Kadar Trigliserid

Monday, June 15th, 2009


TRIGLISERID mungkin masih asing di telinga masyarakat. Trigliserid bukan kolesterol. Ia merupakan tipe lain dari lemak. Seperti halnya kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL), bila kadar trigliserid tinggi bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Tujuan penatalaksanaan yakni menurunkan kadar trigliserid dibawah 150 mg/dl. Trigliserid dikatakan tinggi bila kadarnya diatas 200 mg/dl. Umumnya kadar trigliserid meninggi jika banyak mengkonsumsi  karbohidrat, makanan atau minuman manis, lemak dan protein.

Trigliserid dalam kadar yang normal dibutuhkan oleh tubuh, namun bila tinggi diduga akan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner. Trigliserid tinggi termasuk dalam kelompok yang disebut sindrom metabolik, yaitu kombinasi dari hipertensi, diabetes, obesitas (perut gendut). HDL rendah dan trigliserid tinggi.

Hasil sejumlah penelitian menunjukkan, sindrom metabolik merupakan risiko  penyakit jantung, diabetes dan stroke. Selain makanan, jenis penyakit tertentu dapat meningkatkan kadar trigliserid, yaitu obesitas, diabetes yang tidak terkontrol, sakit ginjal, sakit gondok, minum alkohol serta makan dengan kalori berlebihan.

Jenis obat tertentu, tamoxipen, steroid, betabloker,  diuretik, estrogen, dan pil keluarga berencana (KB), juga dapat meningkatkan kadar trigliserid.

Tak ada keluhan

Apakah sakit kepala atau nyeri ditengkuk merupakan gejala atau tanda trigliserid tinggi? Umumnya, trigliserid tinggi tidak ada keluhan, pada kondisi tertentu dapat terjadi penimbunan lemak dibawah kulit yang disebut xanthomas.

Cara menurunkan kadar trigliserid yakni menurunkan berat badan, olah raga secara teratur, mengurangi konsumsi makanan berlemak dan manis,  hindari minum alkohol. Jika usaha tersebut gagal, mungkin memerlukan obat.

Obat yang biasa digunakan adalah golongan fibrat, asam nikotinik dan beberapa golongan lainnya. Jika kolesterol yang tinggi (total kolesterol dan LDL (kolesterol jahat), umumnya golongan statin lebih banyak dipilih. Sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter. Dokter tentunya memilih obat yang terbaik untuk Anda.  Artikel sejenis klik disini                                                                                                                                                                                         

Sumber : Dr. H.M.Edial Sanif, Sp.JP. FIHA, Mitra Dialog. Juni 2009.


Menerapkan Pola Hidup Sehat

Saturday, May 16th, 2009



Selama ini penerapan pola makan sehat paling banyak dilakukan kaum perempuan. Tak heran bila suatu penelitian menunjukkan kebanyakan pria meninggal dalam usia lebih muda daripada wanita.

Namun, bukan berarti kaum pria tak  bisa berusaha dan mengingkari temuan itu. Ternyata jawabnya bisa, asalkan pria menerapkan pola gaya hidup sehat. Berikut tips agar pria bisa sehat, dikutip dari buku tips sehat berjudul  “ Sehat dengan cara Sederhana” :

1.       Batasi atau hentikkan konsumsi alkohol.

2.       Kontrol kesehatan secara teratur, konsultasi dengan  dokter dan ahli nutrisi, terutama pada usia lebih dari 40 tahun, setiap 3, 6 dan 12 bulan.

3.       Asam urat, batasi jus Buket, yaitu jeroan, alkohol, sarden, burung dara, unggas, kaldu, emping, tape karena dapat meningkatkan  kadar asam urat dalam darah yang dapat berujung pada berbagai penyakit, seperti nyeri sendi dan rematik.

4.       Hentikan merokok.

5.       Pantang gula bagi penderita diabetes-mellitus dan kurangi konsumsi gula bagi non-diabetes.

6.       Batasi mengkonsumsi Tek- Kuk-CS2, diantaranya telor,  keju, udang, kerang, cumi,  susu dan santan.

7.       Stres, berkaitan dengan hipertensi. Usahakan tidur minimal 6 jam sehari. Spa dengan berbagai macam perawatan tubuh dapat pula dijadikan pilihan untuk menghilangakan stres.   

 Tulisan sejenis Klik Disini.

Sumber : Asep Iswayanto. Mitra Dialog. Mei 2009. 

Bayam Mengurangi Risiko Sakit Jantung

Monday, April 27th, 2009


Selama ini kita kurang peduli tehadap kesehatan jantung. Padahal, menurut penelitian medis, penyakit ini sangat ganas, dan bisa menyerang siapa saja.

Bila tidak segera diantisipasi malah menyebabkan kematian seseorang. Sebenarnya, ada beberapa cara sederhana untuk pencegahannya. Selain rutin melakukan aktivitas fisik dan mengontrol tingkat stres, dapat juga melakukan diet seimbang dan mengatur pola asupan makanan bagi tubuh.

Memahami cara memilih asupan makanan yang baik maka jantung dapat terjaga kesehatannya. Ingin tahu jenis makanan apa saja yang baik untuk jantung? Berikut daftar makanan yang terbukti bisa mengurangi tingkat risiko penyakit jantung dikutip dari panduan buku tips, berjudul Olah Raga Sumber Kesehatan, karangan Eddy dan smber lainnya.

1.       Bayam

Bayam mengandung vitamin B,C,E, zat Besi, kalium dan juga berbagai mineral, termasuk betaine yang berguna untuk kesehatan jantung. Bayam juga mengandung Lutein yang baik untuk mata dan tidak mengandung kalori, sehingga bisa dimakan seseri ng mungkin sesuai dengan keinginan. Bila tidak menyukai sayur kesukaan Popaye ini, bisa menggantinya dengan jenis sayuran lainnya. Mengkonsumsi dua jenis sayuran setiap hari dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 25 %.

2.       Salmon

Ikan ini adalah sumber omega terbesar. Mengkonsumsi ikan salmon secara rutin dapat memperbaiki tekanan darah, membantu pengentalan darah secara normal dan mengurangi risiko  terkena serangan stroke. Ikan salmon juga mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan otak dan kulit. Jadi, Anda tidak perlu takut pikun atau memiliki kulit yang tidak sehat saat tua nanti.

3.       Minyak zaitun

Zaitun secara alami mengadung zat bersenyawa  tak tersabunkan seperti fenol,  tokoferol, sterol, pigmen, dan squalen yang memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Minyak zaitun juga mengandung  triasilgliserol yang sebagian besar diantaranya berupa asam lemak tidak jenuh jenis oleat yang memberikan efek positif bagi kesehatan  jantung.

4.       Oatmeal

Oatmeal adalah salah satu menu sarapan ysng sangat baik karena mengandung nutrisi yang kaya akan omega 3, folate, dan kalium Oat juga mengantarkan  protein, pottasium, magnesium, dan berbagai mineral lainnya seperti phytonutrient yang mengandung antioksidan. Kandungan seratnya dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dan menetralkan gula dalam  darah. Sebagai kombinasi, buah pisang juga bisa menjadi pasangan yang tepat untuk sarapan outmeal.(Artikel sejenis klikdisini)

Sumber : Asep Iswayanto/Mitra Dialog/April 2009.  

Wanita Terkena Jantung Meningkat

Saturday, April 18th, 2009



Tuntutan persamaan hak antara pria dan wanita terus diperjuangkan kaum perempuan. Para perempuan mendesak agar mereka mendapat tempat tempat yang sejajar dengan kaum pria,baik dalam rumah tangga, pendidikan,pekerjaan,dipemerintahan hingga legislatif. Kini,kaum perempuan pun sudah banyak yang berkiprah. Ada yang berbisnis,pekerja kantoran, sebagai pendidik dan berpolitik,berkiprah dipemerintahan dan  banyak lagi. Terkadang,dalam aktifitasnya mengalami stres.


      Sementara,padatnya aktivitas tidak dibarengi dengan olahraga,pola makan dan pola hidup yang sehat. Kondisi ini diperburuk dengan mulai banyaknya kaum perempuan yang merokok,terutama wanita karir atau pekerja kantoran. Mereka akhirnya lupa jika ancaman penyakit jantung ada didepan mata.

     Tiga puluh tahun yang lalu,resiko permpuan terkena penyakit jantung adalah 6:1 (6 dibanding1) Artinya,pria 6 kali lebih tinggi berisiko terkena penyakit jantung dibanding wanita.Namun sekarang rasio tersebut semakin mengecil.Beberapa ahli menyebutkan rasionya sudah mendekati 3:1.  Hal ini kemungkinan disebabkan semakin meningkatnya faktor resiko pada wanita,diantaranya merokok dan tekanan dalam pekerjaan yang membutanya stres.

      Dimanjakan Mesin

Tapi ,resiko terkena penyakit jantung juga dialami para wanita rumahan atau ibu rumah tangga. Pasalnya,kemajuan teknologi memanjakan ibu rumah tangga. Beberapa pekerjaan rumah sudah dengan mesin, membersihkan rumah dengan mesin,mencuci pakaian dengan mesin,menggiling bumbu dengan mesin,keluar rumah dengan motor atau mobil.Selain itu, pekerjaan rumah juga diambil alih oleh pembantu.

     Obesitas atau kegemukan semakin menghantui para wanita.Menurut para ahli,saat ini semakin banyak mengalami menopause  lebih dini.  Dalam suatu penelitian yang melibatkan 5.600 orang wanita dengan usia berkisar antara 46 sampai 57 tahun dan dievaluasi selama 10 tahun, didapapatkan bahwa semakin banyak wanita yang menderita hipertensi,hiperkolestrol,obesitas dan penyakit  jantung . Hasil studi ini dibacakan dalam kongres Yayasan Jantung Amerika (AHA)yang dilangsukan di COLORADO,Amerika.

      Karena ulah manusia sendiri tatanan menjadi berubah.Pola makan yang tidak baik,stres,merokok,obesitas,konsumsi obat  yang  tidak wajar alias sembarangan,  terjadilah monopause lebih awal,kadar ekstrogen menurun,sehingga resiko penyakit jantung pun meningkat.

      Jadi,kaum perempuan harus mulai waspada dengan ancaman penyakit jantung.  Boleh-boleh saja beraktifitas diluar rumah atau wanita karir.tapi jangan lupakan pola hidup sehat.Hindari rokok dan cegah terjadinya stres berat yang berakibat serangan jantung. (artikel sejenis klik disini)

dr.H.M.Edial Sanif, SpJP,FIHA. (MITRA DIALOG,18 APRIL 2009)  

Nyeri Dada Tanda Sakit Jantung

Wednesday, April 15th, 2009

Nyeri dada dapat merupakan salah satu tanda atau gejala dari penyakit jantung, namun tidak semua

adanya keluhan sakit dada mereka menderita penyakit jantung….., selengkapnya klik disini

Waspadai Anemia pada Penderita Jantung

Tuesday, April 14th, 2009


Kurang darah atau anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin (Hb) atau kadar hematokrit dibawah batas normal (kadar Hb normal 12 g/dl untuk wanita, 13 g/dl untuk pria dan kadar hematokrit normal > 36 untuk wanita, > 39 untuk pria).

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Anemia ada yang berlangsung sementara, namun dapat mengganggu kesehatan. Bahkan dapat menyebabkan masalah yang serius.

Berapa banyak penderita jantung yang mengalami anemia? Hasil penelitian menunjukkan, pada mereka yang menderita penyakit  jantung terdapat sekitar  17-48% menderita anemia.  Penelitian lain menemukan terdapat sekitar 43 % mereka yang mengalami serangan jantung menderita anemia.

Apa penyebab anemia pada penderita penyakit jantung? Penyebab yang pasti  tidak jelas,  namun  beberapa ahli menyebutkan karena asupan zat bergizi  yang kurang atau karena diet yang berlebihan  atau tidak seimbang. Sebagian lagi menduga karena  terjadinya gangguan pembentukan  Hb oleh tubuh atau terjadi  pengrusakan eritrosit lebih dini yang tidak jelas sebabnya. Tapi, sangat disayangkan analisa tersebut  belum didukung hasil studi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kekurangan Oksigen

Anemia akan mengakibatkan tubuh kekurangan  oksigen, sehingga  jantung harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan oksigen yang berakibat  akan meningkatkan  risiko terjadinya penyakit jantung. Bagi mereka yang sudah menderita penyakit jantung, anemia akan memperburuk kondisi jantung.

Apa  pengaruh anemia bagi penderita penyakit jantung? Anemia dapat menyebabkan nyeri dada berat, karena sebagian otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen. Kekurangan oksigen tersebut akan membuat jantung bekerja keras  yang barang tentu akan terjadi penebalan otot  jantung yang disebut hipertropi ventrikel kiri (LVH). LVH ini akan memperburuk penyakit jantung dan meningkatkan  risiko gagal jantung. Anemi juga dapat meningkatkan penyumbatan pembuluh darah leher, sehingga akan meningkatkan risiko stroke.

Angka kematian juga tinggi pada penderita anemia yang mengalami gagal ginjal atau diabetes. Penanganan anemia merupakan suatu tindakan penyelamat  nyawa  (live saving) pada kondisi tertentu.

Bagaimana dapat mengetahui bahwa saya  Anemia? Cara yang terbaik adalah mendiskusikan hasil pemeriksaan hemoglobin,  hitung jenis dan hematokrit Anda kepada dokter. Umumnya, gejala baru timbul pada anemia sedang dan berat . Di antaranya, lelah, kulit pucat, tangan dan kaki dingin, sakit kepala, nyeri dada, sesak napas, denyut jantung cepat, sehingga diperlukan untuk memeriksakan diri ke dokter secara teratur.  Dengan begitu, ada tidaknya anemi dapat diketahui lebih dini.

Obat yang dapat dipakai diantaranya vitamin, zat besi dan mencegah terjadinya  perdarahan. Sebagian pasien (gagal ginjal), pemberian eritropoitin dapat bermanfaat. Dimana, eritropoitin dapat merangsang pembentukan sel darah merah.

Sumber : Dr.H.M.Edial Sanif, Sp.JP.FIHA. Mitra Dialog. April 2009.

Jangan Remehkan Pingsan

Monday, April 6th, 2009



Seringkali kita mendengar seseorang pingsan setelah menonton konser, kelelahan bekerja, terkejut mendengar  berita  yang tidak menyenangkan atau pingsan tiba–tiba tanpa diketahui  pemicunya dan sebagainya. Biasanya, setelah sadar dibiarkan berlalu tanpa ingin mengetahui  kenapa pingsan dan cenderung meremahkan.

Pingsan atau sinkope yaitu suatu keadaan dimana terjadi  kehilangan kesadaran secara tiba-tiba dan umumnya bersifat sementara. Hampir setiap orang pernah mengalami pingsan, setidaknya sekali dalam hidup mereka dan sering tidak menunjukkan masalah medis yang  serius. Namun,  kadangkala keadaan pingsan menunjukkan hal yang berbahaya, bahkan dapat mengancam nyawa. Karena itu,  bila terjadi keadaan pingsan penting untuk mengetahui penyebabnya. Yang pertama harus dipastikan,  apakah keadaan pingsan itu tidak mematikan? Apa pula penyebab pingsan itu?

Penyebab pingsan dapat  dikelompokkan menjadi (4) kelompok besar yaitu:  neurologis, metabolis, vasomotor  dan gangguan jantung. Dari keempat penyebab tersebut , menurut para ahli,  maka keadaan pingsan yang disebabkan gangguan jantunglah  yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Penyempitan Kelainan jantung  yang dapat menyebabkan pingsan  adalah  gangguan aliran darah (obstruktive cardiac lesions), seperti  penyempitan katup aorta ( aorta stenosis) , penyempitan katup mitral (mitral stenosis), tumor jantung, (myxoma), gumpalan darah yang terjadi secara tiba-tiba di pembuluh darah paru paru ( emboli paru), serta gangguan irama jantung.

Gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan pingsan yaitu denyut jantung terlalu cepat (ventrikel  takikardi). Kesemua  gangguan jantung, tersebut  menyebabkan terganggunya aliaran darah ke otak sehingga terjadi pingsan. Jadi,  jika ada seseorang mengalami pingsan,  sebaiknya  kita telusuri lebih jauh , apakah yang bersangkutan terdapat kelainan jantung,  yang dapat menyebabkan kematian mendadak.  Selain itu,  juga  diperlukan untuk mencari  penyebab lain,  seperti  gangguan saraf, gangguan metabolik seperti  kadar gula darah  yang  rendah ( hipoglikemi), dan sebagainya.  

Sumber : Dr. H.M. Edial Sanif, SpJP.FIHA. Mitra Dialog. Maret 2009.

Ginjal dan Jantung Berhubungan Sangat Erat

Monday, April 6th, 2009



 

Ginjal, merupakan salah satu organ tubuh  yang sangat penting, karena mempunyai fungsi yang beragam. Selain penyaring sisa metabolisme tubuh, ginjal juga sebagai penyeimbang cairan, elektrolit dan zat kimia tubuh, seperti sodium, kalium serta mengatur produksi urin.

Ginjal juga ikut berperan dalam pengaturan tekanan darah (hemodinamik).  Jika fungsi ginjal terganggu akan mengganggu sistem tubuh, baik sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem saraf, maupun sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).

Jika seseorang menderita gagal ginjal kronis (CKD, Chronic Kidney Disease), dimana pengeluaran cairan tubuh terganggu,  air kencing sedikit keluar sehingga terjadi penimbunan cairan dalam tubuh (volume overload). Peningkatan kadar ureum dan kreatinin, peningkatan kadar kolesterol serta penumpukan zat racun lainnya.

Berdasarkan penelitian sekitar 70% penyebab kematian penderita gagal ginjal yakni akibat penyakit jantung. Gagal ginjal akan menyebabkan terjadinya penyempitan dini pembuluh koroner, otot jantung akan mengalami gangguan  akibat volume cairan tubuh yang meningkat (volume overload), tekanan darah yang meningkat (pressure overload), adanya anemi pada penderita gagal ginjal akan mengganggu otot jantung dengan segala akibatnya. Begitu juga dengan adanya kadar ureum yang tinggi, kreatinin yang tinggi, kolesterol yang tinggi, gangguan elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium, fosfor, serta menumpuknya zat-zat sisa metabolisme tubuh lainnya akan berakibat buruk buat jantung.

Jadi, gagal ginjal akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner lebih dini, dapat terjadi aritmia (gangguan irama jantung), gangguan otot jantung yang berlanjut menjadi pembengkakan jantung,  gagal jantung dan mati mendadak.  

Penyebab terjadinya gagal ginjal diantaranya karena infeksi, batu ginjal, hipertensi, reaksi autoimun, kelainan bawaan, penyempitan atau penyumbatan pembuluh arteri ginjal (arteri renalis) dan sebagainya.

Sebaliknya, jika seseorang telah menderita gagal jantung, dimana kemampuan otot jantung menurun sehingga jumlah darah yang dipompakan tidak mencukupi untuk keperluan tubuh, terdapat penurunan jumlah darah ke ginjal. Jika hal ini berlangsung lama maka fungsi ginjal juga akan terganggu.

Jadi, kedua organ ini mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu, bagi mereka yang menderita gagal ginjal haruslah juga menilai kondisi jantungnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan begitu juga sebaliknya.         (Sumber : Dr. H.M. Edial Sanif, Sp.FIHA. Mitra Dialog. Maret 2009.)  

Jalan Kaki Cegah Penyakit Jantung

Monday, April 6th, 2009


Tak dipungkiri, jalan kaki merupakan salah satu olah raga fisik paling  murah. Dapat dilakukan setiap saat dan baik bagi kesehatan. Bagi yang terbiasa mengendarai mobil, menurut saran sejumlah ahli kesehatan, kenapa tidak mengubah  pola hidup dengan meninggalkan mobil dirumah dan menggantinya dengan jalan kaki atau jalan santai aja.

Hasil penelitian jalan kaki secara teratur dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), yang merupakan salah satu faktor pencetus penyakit jantung.Selain itu, jika Anda memang penderita hipertensi, aktivitas berjalan kaki justru sangat membantu menurunkan, mengurangi, tekanan darah, tentunya jika dilakukan secara rutin.

Aktivitas jalan kaki memang baru bisa  disebut olah raga jika dilakukan secara berkesinambungan, minimum 30 menit, setiap harinya. Untuk latihan jantung, perhitungan zona  latihannya adalah 60-80% dari denyut nadi maksimum(DNM).

Agar latihan lebih efektif ,kalangan ahli berpendapat, sebaiknya intensitasnya di tambah, baik kecepatannya jarak tempuhnya, waktu dan juga medannya (misalnya jalan yang menanjak/menurun). Latihanpun bisa di mulai dari seminggu sekali,seminggu dua kali, seminggu tiga kali, sampai nantinya bisa dilakukan setiap hari.

Bertahap & rutin

Pembiasaan tersebut memang tidak mudah .Tapi jika dilakukan secara rutin dan bertahap dengan kemauan yang tinggi, pasti bisa berhasil. Selain itu, coba tanamkan pula kebiasaan berjalan kaki jika ingin menuju tempat yang tidak terlalu jauh. Alih-alih menggunakan kendaraan bermotor,cobalah berjalan kaki.

Meskipun hanya 10 menit, lumayan untuk menggerakkan otot tubuh dan jantung Anda. Peningkatan aktivitas fisik perlu juga dilakukan.Hal itu bukan berarti Anda harus berolahraga di sebuah tempat senam, namun perbanyak aktivitas, seperti jalan kaki menggunakan tangga, dibanding lift serta berkebun.Yakinlah bahwa kegiatan  tersebut jauh lebih baik & bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

 

Sumber :  Asep Iswayanto/MD/dari berbagai sumber.

 

Sinyal untuk Para Calon Legislatif

Monday, April 6th, 2009


SINYAL! Ya, betul sinyal, sebuah pemberitahuan atau peringatan. Jantung dapat memberikan sinyal kepada “bos”-nya jika ada sesuatu yang kurang beres dalam kehidupan seseorang yang sudah berada diluar ambang batas ketahanan tubuh atau sesuatu yang dirasakan oleh tubuh tidak normal.

Berdebar, sesak nafas, pingsan atau sinkope, nyeri dada dan biru pucat/sianosis, merupakan sederetan sinyal jantung yang dapat disampaikan kepada seseorang agar segera melakukan sesuatu langkah, sikap, strategi dan tindakan nyata agar situasi dan kondisis tubuh tidak memburuk. Pesta demokrasi tinggal beberapa hari lagi. Para calon wakil rakyat tentunya tinggal menghitung hari. Semua tenaga, pikiran, uang/harta dan perasaan telah ditumpahkan.

Makin dekat hari pencentangan/pencontrengan semakin kencang jantung berdenyut, perasaan gelisah, sulit tidur, haru, pesimistis atau optimistis bercampur dan silih berganti setiap hari.

Makin banyak pakar menganalisa , semakin tidak jelas arah angin. Kadangkala, bermimpi duduk dikursi terhormat dengan pakaian kebesaran. Ketika terbangun, denyut jantung kian kencang berdenyut. Kadangkala diselingi nyeri dada dan nafas yang tidak lega. Bisa jadi, rasa lelah dianggap angin lalu. Namun, jangan sepelekan hal tersebut. Jika denyut jantung dalam keadaan istirahat melebihi 120 x/menit, timbul nyeri dada lebih 15 menit   tidak hilang dengan istirahat atau sesak nafas yang tidak jelas sebabnya, disertai keringat dingin atau mual muntah

Jaga kesehatan

Yang perlu diperhatikan,  para calon anggota legislatif (caleg) yakni tetap menjaga kesehatan. Karena asyik berjuang untuk meraih kemenangan dalam PEMILU legislatif, masalah kesehatan diri, jangan dilupakan. Maka, para caleg hendaknya tetap mewaspadai adanya batas kemampuan fisik, batas kemampuan berfikir, dan batas kemampuan perasaan. Jika ada sinyal jantung tersebut diatas timbul, maka hal itu merupakan pertanda batas itu sudah dilewati.  Artinya harus mengambil sikap untuk  menahan diri, tetap cukup istirahat, makan makanan bergizi, jangan minum minuman penahan kantuk, berolahraga ringan, hindari gejolak emosi, cukup tidur dan berserah diri alias tawakal.

Lihat artikel lainnya yang lebih seru : klik disini

Sumber : Dr.H.M.Edial Sanif, SpJP.FIHA. Mitra Dialog. April 2009.

Tenis Amankah Buat Penderita Jantung?

Monday, February 23rd, 2009


Di Amerika, satu setengah juta orang mengalami serangan jantung tiap tahun.Kurang dari separuhnya yang selamat, yaitu 700.000 orang. Seratus ribu orang lagi meninggal dalam 5 menit pertama serangan jantung  dan 350.000 orang meninggal sebelum sampai ke rumah sakit.

Olah raga merupakan salah satu usaha untuk memperkecil resiko terjadinya serangan jantung. Banyak jenis dan macam olah raga, namun yang dianjurkan adalah aerobik. Aerobik merupakan olah raga yang dapat memacu denyut jantung, dan menaikkan tekanan darah serta menggerakkan otot-otot besar, seperti tangan, kaki, dan badan.Tenis ( tenis lapangan) termasuk dalam kelompok olah raga aerobik .

Suatu penelitian yang dilakukan di Universitas John Hopkins, yang melibatkan lebih dari 1.000 siswa, menyebutkan, mereka yang aktif tenis mempunyai risiko serangan jantung lebih kecil dibanding yang bukan olah raga tenis. Hasil penelitian ini dimuat dalam majalah  American Juornal of Sport Medicine tahun 2002.

Namun, hasil  suvei ini kemudian banyak dipertanyakan kembali oleh para pakar kesehatan, mengingat makin banyaknya kejadian serangan jantung yang justru terjadi saat olah raga tenis berlangsung.

Arthur Ashe, juara tenis Wimbledon dan American Open Champion , mengakhiri kariernya  karena serangan jantung. Frank (59 tahun, seorang pengusaha) mengalami serangan jantung saat ganti pakaian beberapa saat  setelah olah raga tenis,  John (43 tahun, ahli ekonomi yang sukses) yang sedang dipromosikan menduduki jabatan bergengsi  diperusahaannya, mengalami serangan jantung 2 jam setelah olah raga tenis, serta James Doherty, petenis muda yang baru berusia 13 tahun, yang sedang mengikuti  sekolah tenis ternama di Hazzel-wood Tennis Academy di Enfield, Middlesex, Inggris, dimana ia telah memenangkan beberapa turnamen, namun ambisinya menjadi petenis profesional kandas setelah ia mengalami serangan jantung saat berada di lapangan tennis.

Amankah tenis buat penderita jantung? Semua olah raga baik buat kesehatan,namun punya resiko.Hal ini tergantung dari kondisi kesehatan masing- masing individu.Tenis termasuk dalam kelompok olah raga aerobik, dimana terjadi kenaikan denyut jantung dan tekanan darah selama olah raga serta dapat membakar kalori sekitar 300 kalori selama setengah jam permainan tunggal.

Faktor Emosi

Tenis juga merupakan olah raga kompetisi, sehingga faktor emosional juga mempengaruhi sistem kardiovaskuler. Olahraga akan memacu pelepasan adrenalin oleh tubuh, dengan adanya faktor emosional maka jumlah adrenalin yang diproduksi oleh tubuh akan lebih banyak lagi.

Adrenalin ini akan memicu serangan jantung melalui dua mekanisme, yaitu merangsang pembekuan darah dan mengkerutkan pembuluh darah (spasme).Selain itu, adanya gerakan refleks yang tiba-tiba pada olah raga tenis akan menambah deretan risiko serangan jantung bagi penderita jantung, dimana rongga dinding pembuluh darahnya sudah menyempit karena adanya timbunan lemak dan sebagainya.

Tidak adanya keluhan atau gejala penyakit jantung, bukan berarti Anda bebas dari penyakit jantung. Hasil penelitian menunjukkan, pria  usia diatas 40 tahun rata-rata sudah terjadi penyempitan pembuluh darah sekitar 70%.

Adanya kontroversi dari ulasan diatas kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi yang maniak tenis. Bagi yang berusia diatas 40 tahun agar tetap hati-hati. Pemanasan dan pendinginan tetap dijalankan sebagaimana lazimnya pada semua bentuk olahraga. Bagi yang sudah menderita penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi kepada dokter agar resiko olah raga tenis dapat diperkecil. Ingin tahu lebih lanjut klik disini.

Sumber : Dr.H.M.Edial Sanif,SpJP.FIHA. Mitra Dialog. Februari 2009.

Jalan Kaki Cegah Penyakit Jantung

Sunday, February 15th, 2009

Tak dipungkiri, jalan kaki merupakan salah satu olah raga fisik paling  murah. Dapat dilakukan setiap saat dan baik bagi kesehatan. Bagi yang terbiasa mengendarai mobil, menurut saran sejumlah ahli kesehatan, kenapa tidak mengubah  pola hidup dengan meninggalkan mobil dirumah dan menggantinya dengan jalan kaki atau jalan santai aja.

Hasil penelitian jalan kaki secara teratur dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), yang merupakan salah satu faktor pencetus penyakit jantung.Selain itu, jika Anda memang penderita hipertensi, aktivitas berjalan kaki justru sangat membantu menurunkan, mengurangi, tekanan darah, tentunya jika dilakukan secara rutin.

Aktivitas jalan kaki memang baru bisa  disebut olah raga jika dilakukan secara berkesinambungan, minimum 30 menit, setiap harinya. Untuk latihan jantung, perhitungan zona  latihannya adalah 60-80% dari denyut nadi maksimum(DNM).

Agar latihan lebih efektif ,kalangan ahli berpendapat, sebaiknya intensitasnya di tambah, baik kecepatannya jarak tempuhnya, waktu dan juga medannya (misalnya jalan yang menanjak/menurun). Latihanpun bisa di mulai dari seminggu sekali,seminggu dua kali, seminggu tiga kali, sampai nantinya bisa dilakukan setiap hari.

Bertahap & rutin

Pembiasaan tersebut memang tidak mudah .Tapi jika dilakukan secara rutin dan bertahap dengan kemauan yang tinggi, pasti bisa berhasil. Selain itu, coba tanamkan pula kebiasaan berjalan kaki jika ingin menuju tempat yang tidak terlalu jauh. Alih-alih menggunakan kendaraan bermotor,cobalah berjalan kaki.

Meskipun hanya 10 menit, lumayan untuk menggerakkan otot tubuh dan jantung Anda. Peningkatan aktivitas fisik perlu juga dilakukan.Hal itu bukan berarti Anda harus berolahraga di sebuah tempat senam, namun perbanyak aktivitas, seperti jalan kaki menggunakan tangga, dibanding lift serta berkebun.Yakinlah bahwa kegiatan  tersebut jauh lebih baik & bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Ingin tahu lebih lanjut klik disini.

 

Sumber :  Asep Iswayanto/MD/dari berbagai sumber.

 

Waspadai Serangan Jantung Saat Hamil

Sunday, February 15th, 2009

MEMBACA judul diatas Anda mungkin terkejut atau tidak percaya. Apa benar wamita hamil dapat terkena serangan jantung?

Sebuah survei yang dilakukan Elkayam, dari sebuah universitas di Los Angeles, menyebutkan wanita hamil empat kali lebih besar kemungkinan terjadinya serangan jantung, dibanding perempuan yang tidak sedang hamil.

Hasil penelitian Elkayam ini di muat dalam majalah The Journal of The American College of The Cardiology. Hasil survei ini pun menjadi topik berita utama koran-koran dibeberapa negara bagian Amerika.

Serangan jantung dapat terjadi kapan saja selama kehamilan. Usia wanita hamil yang terkena serangan jantung berkisar 19 sampai 44 tahun, yang tersering pada usia 30 tahun.

Menurut Elkayam,Mereka yang terserang umumnya mempunyai beberapa faktor resiko, misalnya merokok (45%), hiperkolesterol (24%), riwayat keluarga atau faktor keturunan (22%), hipertensi (15%), kencing manis (11%). Sekitar 18% serangan jantung terjadi saat atau segera setelah melahirkan.

Selain masalah koroner sebagai penyebab serangan jantung pada ibu hamil, dapat juga karena sebelumnya ibu itu sudah ada kelainan bawaan. Misalnya, adanya PFO (Patent Foramen Ovale) atau ASD (Atrial Septal Defect).

Jika terdapat gumpalan darah di atrium kanan, dimana saat ibu hamil tekanan dalam rongga perut dan rongga dada tinggi, sehingga bekuan atau gumpalan darah akan masuk ke atrium kiri melalui lubang (ASD/PFO), selanjutnya terjadilah serangan jantung.

Adanya gumpalan darah atau mikroemboli ini juga dapat menyebabkan sering terjadinya keguguran pada ibu hamil. Sebab, mikroemboli ini juga dapat menyumbat tali pusat (umbilikus).

Untuk menghindari serangan jantung pada wanita hamil , hal-hal berikut perlu diperhatikan : 1)Stop merokok, baik bagi ibu hamil maupun suami atau siap saja yang tinggal serumah dengan ibu hamil . 2) Diet rendah lemak, 3) Hindari stress.

Kemudian, tanda-tanda dini serangan jantung, seperti nyeri dada, rasa tidak nyaman di dada, sesak nafas atau keluhan lain yang cukup mengganggu dalam bernafas. Kontrol teratur dan beritahu ke dokter jika keluhan-keluhan tersebut Anda rasakan. 

ICD 10

Thursday, February 12th, 2009

Anda ingin tahu ICD 10 bahasa Indonesia : klik ICD

Kode Penyakit Internasional ( ICD )

Thursday, February 12th, 2009

Anda ingin tahu Kode Penyakit Internasional :   Klik  ICD

PROGRAM REHABILITASI KARDIOVASKULER

Monday, February 9th, 2009

PROGRAM  REHABILITASI KARDIOVASKULER

 

Apa itu Rehabilitasi Kardiovaskuler?

                Dengan penggunaan mobil ambulan,tim resusitasi jantung-paru,dan ICCU, penderita infark miokard sekarang mempunyai kesempatan hidup lebih baik dibanding beberapa tahun yang lampau. Akan tetapi ternyata kesempatan hidup (survival) saja bukanlah merupakan jawaban yang cukup.Yang penting adalah bagaimana penderita-penderita penyakit  jantung dapat kembali menjadi orang-orang yang produktif di lingkungannya.

Diperlukan pendekatan baru sebagai metode tambahan yang dapat memperbaiki perawatan penderita “coronary prone”, penderita pasca infark miokard, dan penderita pasca bedah pintas koroner.Program pengobatan tambahan ini dikenal dengan “ Cardiac Rehabilitation”.

Hal ini tentu sangat sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang menyatakan bahwa upaya kesehatan harus mencakup aspek-aspek promotif, preventif  dan kuratif, dan rehabilitatif.

Mengapa diperlukan?

Dengan pengetahuan yang ada sekarang sangatlah kecil harapan untuk menghilangkan aterosklerosis, karena itu kita harus memilih alternatif yang ada yaitu:

1.       Menghindar i/mengurangi faktor risiko koroner sejak kecil

2.       Memperbaiki  pengobatan penderita dengan penyakit sklerotik arteri jantung.

3.       Merehabilitasi penderita yang telah mengalami infark miokard. Dengan cara ini penderita dapat kembali hidup produktif dan mungkin mengurangi terjadinya serangan jantung kedua.

Terdapat beberapa kepentingan dalam rehabilitasi kardiovaskuler:

1.       Pencegahan terhadap penderita jantung dengan resiko tinggi, dimana belum terjadi infark miokard.

2.       Menurunkan angka kesakitan dan kematian penderita infark miokard atau pembedahan jantung.

3.       Memperpendek lama perawatan di rumah sakit

4.       Mengurangi biaya pengobatan

Dengan demikian program rehabilitasi kardiovaskuler ini dapat dibagi menjadi:

1.       Progran yang membantu mengurangi kejadian infark miokard pada kelompok pendrerita risiko tinggi ”cardiac prone”

2.       Program rehabilitasi jantung untuk orang-orang yang baru mengalami serangan jantung

3.       Program penderita yang sudah berobat jalan (out patient) yang sudah mengalami “physical conditioning” dapat mengurangi kejadian infark miokard berulang, dan mengurangi angka kematian bila terjadi serangan jantung kedua.

Melalui program rehabilitasi yang terencana maka secara fisik dan mental akan menjadi lebih kuat. Hal ini mengurangi kemungkinan serangan infark kedua dan memperbaiki kesempatan hidup (survival) bila terjadi.

Kapan dimulai?

Rehabilitasi kardiovaskuler yang ideal adalah merupakan program untuk mencegah terjadinya penyakit jantung, oleh karena itu harus dimulai sejak masa anak-anak.

Untuk penderita yang sedang dalam perawatan sebaiknya diputuskan oleh dokter yang merawatnya, yang mengenal kondisi penderita. Secara garis besar  terdapat 3 fase bagi penderita yang sedang dalam perawatan yaitu:

1.       Rehabilitasi dini di rumah sakit selama 1-2 minggu

2.       Rehabilitasi  di rumah, mempersiapkan penderita untuk kembali bekerja (return to work) selama  2- 6 minggu

3.       Rehabilitasi lanjutan (out patient) selam hidup.

Bagaimana melaksanakan rehabilitasi kardiovaskuler?

Program rehabilitasi tidak  bisa dipisahkan dari program latihan fisik (exercise), oleh sebab itu kedua hal  tersebut  harus menjadi satu bagian kegiatan di dalam mengelola rehabilitasi kardiovaskuler.

Lebih kurang 20 tahun penelitian tentang program latihan jasmani diberbagai tempat baik untuk orang normal maupun penderita penyakit jantung koroner memberikan hasil yang positif, terutama tampak perbaikan pada hemodinamik yaitu penurunan denyut nadi dan tekanan darah pada waktu istirahat maupun pada waktu latihan jasmani,  gambaran iskemia pada EKG menjadi lebih ringan, makin  berkurangnya aritmia yang ditimbulkan oleh latihan jasmani, perbaikan psikologis dalam arti makin berkurangnya sifat depresi, ansietas dll.

Konsep ini diterapkan pada program rehabilitasi, sehingga aktifitas fisik tidak lagi merupakan hal yang dipantang , malah pemulangan penderita dari rumah sakit dipercepat agar kemudian dapat diberikan latihan fisik yang terarah untuk mempercepat pemulihan dari sisa-sisa penyakit secara fisiologis maupun psikologis sehingga dapat berfungsi kembali di masyarakat.

Semua penulis sependapat bahwa rehabilitasi harus dilakukan dalam suatu wadah terorganisir, mempunyai kaitan dengan fasilitas rumah sakit (kardiologi), sehingga pengaturan dan pengawasan dapat dilakukan lebih cermat.

Langkah-langkah yang harus ditempuh:

1.       Seleksi pengelompokan anggota

2.       Menentukan dosis latihan

3.       Menentukan bentuk-bentuk latihan

4.       Evaluasi

 

Program latihan :

1.       Menghitung denyut nadi awal,  untuk mengetahui kondisi  kardiovaskuler saat itu.

2.       Senam pemanasan berupa latihan peregangan disertai latihan pernafasan yang berlangsung sekitar 5-10 menit.

3.       Latihan utama berupa jalan kaki, jogging, lari, bersepeda sekitar 20-30 menit, sesuai dengan dosis latihan.

4.       Senam pendinginan berupa latihan pernafasan ataupun teknik-teknik relaksasi selama  5-10 menit.

5.       Menghitung nadi akhir latihan

Latihan minimal dilakukan 3 kali seminggu dengan teratur, dengan ketaatan latihan tiadak boleh kurang dari 70% dalam sebulan.

Siapa Yang Melaksanakan?

Program latihan bagi penderita penyakit kardiovaskuler harus dilakukan dengan pengawasan dan monitoring  yang cermat, karena itu petugas yang  melaksanakannya harus memahami masalah tersebut.Agar program ini berjalan dengan  baik dibutuhkan tenaga:

1.       Dokter Spesialis Jantung sebagai konsulen (1orang)

2.       Dokter umum sebagai pengawas harian (1orang)

3.       Perawat yang menguasai kegawatdaruratan dan menyenangi olah raga (sesuai jumlah peserta)

Disamping itu diperlukan pula sarana yang memadai, diantaranya:

1.       Ruangan latihan

2.       Alat latihan (ergocycle, treadmill,dll)

3.       Dokumen untuk monitoring dan evaluasi. 

: ingintahu lebih jauh klik disini

 

 

 

 

REHABILITASI PASIEN CORONARY ARTERY DISEASE

Monday, February 9th, 2009

REHABILITASI  PASIEN CORONARY ARTERY DISEASE

SELAMA PERAWATAN DI RUMAH SAKIT

 

Tujuan :

1.       Memperkecil pelebaran kerusakan dari otot jantung

2.       Memberikan faedah kejiwaan melalui latihan-latihan

3.       Meningkatkan toleransi dalam aktifitas

4.       Mengembalikan pasien ke pekerjaan semula dan kehidupan normal

5.       Mengembalikan keyakinan pasien di dalam ketidakmampuannya (fungsi jantung)  ke dalam kehidupan normal

Latihan dapat dimulai apabila tidak dijumpai hal-hal berikut:

1.       Tandaa-tanda shock

2.       Dekompensasi jantung

3.       Aritmia

4.       Nyeri angina yang hebat dan lama

5.       Suhu tubuh diatas 38 C

Perlu diperhatikan:

Sebelum, selama dan sesudah latihan harus dicatat denyut nadi dan tekanan darah pasien.Denyut nadi tidak  boleh lebih dari 110x/mnt

Latihan selama fase akut di ICCU

1.       Deep breathing

2.       Latihan untuk tungkai dan kaki dimulai dengan gerakan pasif. Bila pasien keadaannya membaik diteruskan dengan gerakan free active

Latihan selama fase akut di bangsal

Tahap I     : - Breathing exercise

                    -Latihan aktif dari tungkai dan kaki

Tahap II   : - Sama dengan tahap I

                     -Duduk di kursi selama +  1 jam (bertahap sesuai keadaan umum)

                     -Makan sendiri dan membersihkan tangan

Tahap III :  - Latihan tahap I diteruskan

                     -Duduk dikursi selama + 2 jam (pagi dan sore)

Tahap IV  :  - Berjalan ke kamar  mandi /toilet

                     -Bed End Exercise dilakukan 5 kali gerakan

Tahap V  :  - Seperti  tahap IV dilakukan 6 kali gerakan

Tahap VI : - Seperti  tahap IV dilakukan 7 kali gerakan

Tahap VII:  - Seperti tahap IV dilakukan 8 kali gerakan

Tahap VIII : - Seperti tahap IV ditambah latihan jongkok berdiri dengan berpegangan pada kursi

 

Bed End Exercise

Pasien berdiri menghadap ujung tempat tidur kemudian melakukan:

1.       Lutut ditekuk (tidak sampai jongkok) kemudian berdiri

2.       Merentangkan lengan setinggi bahu

3.       Mengayunkan tungkai bergantian

4.       Jari kedua lengan menyentuh bahu kemudian gerakan sendi bahu memutar

Latiahan dihentikan bila :

1.       Timbul nyeri dada

2.       Sesak nafas

3.       Letih

4.       Prematur ventrikular beat (dari monitoring EKG)

5.       Pusing

6.       Kram otot

7.       Target denyut nadi tercapai

8.       Penurunan tekanan darah   …. Ingin tahu lebih lanjut klik disini