Archive for the ‘HIPERTENSI’ Category

Memahami Batasan Hipertensi

Monday, April 27th, 2009

Memahami Batasan Hipertensi

Posted by edial sanif

at April 27, 2009

Welcome back!

Memahami Batasan Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merambah hampir ke semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah mereka yang menderita hipertensi terus bertambah.
Terdapat sekitar 50 juta (21,7%) orang dewasa Amerika yang menderita hipertensi, Thailand 17%, Vietnam 34,6%, Singapura 24,9%, Malaysia 29,9%. Di Indonesia, prevalensi hipertensi berkisar 6-15%. Namun, terdapat hasil survey yang ekstrim rendah yaitu di lembah Balim, Pegunungan Jaya Wijaya, yang hanya 0,6%. Lalu untuk ekstrim tinggi di Talang. Sumatra Barat 17,8%.
Menurut perkiraan, sekitar 30% penduduk dunia tidak terdiagnosa adanya hipertensi (underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan tidak adanya gejala atau dengan gejala ringan bagi mereka yang menderita hipertensi. Sedangkan, hipertensi ini sudah dipastikan dapat merusak organ tubuh, seperti jantung (70% penderita hipertensi akan merusak jantung), ginjal, otak, mata serta organ tubuh lainnya. Sehingga, hipertensi disebut sebagai silent killer.
Sebagian besar penyebab dari hipertensi (95%) tidak diketahui dan disebut hipertensi kronis atau hipertensi esensiel. Hanya sebagian kecil (5%) penderita hipertensi yang diketahui penyebabnya, yaitu akibat penyakit lain di tubuh diantaranya koartasio aorta, kelainan ginjal dan lainnya. Hipertensi jenis ini disebut sebagai hipertensi sekunder.
Tidak Tahu
Umumnya, masyarakat awam mengetahui seseorang menderita hipertensi jika tekanan darah lebih tinggi dari 160/90 mmHg (hal ini sesuai definisi hipertensi dari WHO, pada 20 tahun yang lalu). Yang lebih parah lagi, masih banyak masyarakat yang menganut sistim seratus ditambah usia, maksudnya seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darahnya diatas 100 + usia (misalkan usia 70 tahun, maka tekanan darah 100 + 70 = 170 sistolik, masih dianggap normal. Diatas nilai tesebut baru dikatakan menderita hipertensi). Sekarang nilai atau batasan hipertensi sudah berubah yaitu tekanan darah dikatakan normal apabila < 120/80 mmHg, pre-hipertensi 120-139/80-99 mmHg, hipertensi derajat 1: 140-159 / 90-99 mmHg, hipertensi derajat 2 : > 160/90 mmHg.
Batasan ini ditetapkan dan dikenal dengan ketetapan JNC VII (The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of Hight Blood Pressure).
Ketetapan ini juga telah disepakati Badan Kesehatan Dunia (WHO), organisasi hipertensi International (ISH), maupun organisasi hipertensi regional, termasuk Indonesia (InaSH).
Dari batasan tersebut terlihat bahwa mereka yang mempunyai tekanan darah normal yaitu apabila tekanan darahnya lebih rendah dari 120/80 mmHg, diatas dari batasan tersebut sudah masuk dalam kategori pre-hipertensi dan atau hipertensi.
Dengan penjelasan ini diharapkan masyarakat sudah dapat mengetahui, masing-masing individu telah masuk dalam kategori hipertensi atau belum. Sehingga, dapat segera melakukan tindakan atau pencegahan dini agar dampak hipertensi tidak terlanjur lebih berat bagi kesehatan kita. (artikel sejenis klik disini)

Sumber : Dr. H.M.Edial Sanif, SpJP.FIHA. Mitra Dialog. April 2009

Jenis-jenis Obat Hipertensi

Saturday, January 24th, 2009

Jenis-jenis Obat Hipertensi

Apakah anda ingin mengetahui  jenis obat hipertensi yang telah diberikan dokter kepada anda, dan bagaimana obat tersebut bekerja, saya akan mengelompokkan dalam berbagai kelompok dan memeberikan berbagai contoh jenis obat hipertensi yang umum dijumpai.

Tujuan yang akan dicapai dalam pemberian obat hipertensi adalah menurunkan risiko serangan jantung, gagal jantung dan stroke, dimana penyakit tersebut dapat terjadi akibat hipertensi.  Berdasarkan penelitian bahwa penurunan tekanan darah 5 atau 6 mmHg, dapat menurunkan 40% risiko stroke, dan 20% risiko penyakit jantung koroner. Dokter akan mempertimbangkan berbagai hal tentang karakteristik diri anda, jenis penyakit penyerta, jenis obat, efek samping, harga obat dan lain sebagainya.  Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk merubah diagnosis dan jenis obat yang telah diberikan dokter kepanda anda, tapi untuk menambah pengetahuan anda tentang apa, kenapa dan bagaimana mengenai  obat tersebut secara umum, dimana dokter mungkin tidak mempunyai waktu menjelaskan lebih detail,  sedangkan anda ingin mengetahuinya.  Berikut adalah jenis-jenis obat hipertensi :

Antiadrenergik (Adrenergic reseptor antagonis).

Beta Bloker

Dokter memakai jenis obat hipertensi  ini bagi mereka yang menderita : gampang cemas,stress,  tremor, asmatik, penderita penyakit jantung koroner.

Atenolol (Betablok,Internolol,Farnormin,Hiblok,Tenoret,Tenoretic,Tenblok,Nif-Ten,Tenormin,Tensinorm,Zumablok,)

Bisoprolol (B-Beta, Bisovel,Concor,Hapsen,Lodoz,Meintate).

Metoprolol (Cardiosel,Lopresor,Seloken,Loprolol,)

Nadolol

Oxprenolol

Pindolol

Propanolol (Inderal,Farmadral,)

Timolol

Alpa Bloker

Sering direspkan dokter, jika penderita hipertensi diserta hipertropi prostat.

Doxazosin (Cardura,

Indoramin

Phentolamine

Phenoxybenzamine

Prazosin

Terazosin

Tolazoline

Kombinasi Alpa dan Beta Bloker

Bucindolol

Carvedilol (Blorec,Carbloxal,Dilbloc,V-Bloc)

 

Labetalol

 

Calcium Channel Blockers

Apabila kalsium masuk kedalam sel otot jantung, maka jantung akan berkontraksi, dinding pembuluh darah akan menyempit.  Calsium Channel Blockers akan menghambat masuknya kalsium kedalam sel dengan menghambat reseptor, hal ini akan menyebabkan dinding pembuluh darah melebar dan berakibat turunnya tekanan darah.

Dihidropiridine

Amlodipine :  (Actapin,Amcor,Amdixal,Calsivas, Cardivask,Divask,Intervask,Normoten,NorvaskTensivask,Norvask,Theravask

Diltiazem (Herbesser

Nifedipin (Adalat,Calcianta,Carvas,Cordalat,Coronipin,Farmalat,Fedipin,Ficor,Nifecard,

                   Nifedin,Vasdalat,Xepalat)

Felodipine (Nirmadil, Plendil))

Isradipine

Lercanidipine (Zanidip)

Nicardipine (Perdipine)

Verapamil  (Isoptin SR).

 

 

 

Ace Inhibitors

Angiotensin II mengakibatkan dinding pembuluh darah berkontraksi, dinding pembuluh darah akan menyempit dan berakibat tekanan darah akan meningkat. Pembentukan angiotensin II ini memerlukan suatu enzim yang disebut agiotensin converting enzyme, yang merubah angiotensin I menjadi angiotensin II.  Jadi dengan mengurangi produksi angiotensin II  maka dinding pembuluh darah akan melebar, berakibat turunnya tekanan darah. Zat yang dapat menghambat  “ angiotensin converting enzyme tersebut disebut “ Ace Inhibitor. Diantaranya :

Captopril  : (Accepress, Capoten , Capozide,Captensin,Casipril,       Dexacap,Famoten,Forten,Lotensin,Metopril,Otoryl,Praten,Scantensin,Tensicap,Tensobon)

Enalapril  (Meipril,enacardon,Tenace,Tenazide)

Lisinopril (Interpril,Linoxal,Nperten,Nopril,Odace,Tensipar,Zestril,Zestoretic)

Fosinopril (Acenor-M)

Perindopril (Prexum)

Quinapril (Accupril)

Ramipril (Cardace,Hyperil,Ramixal,Triatec)

Trandopril (Gopten,Tarka)

Benzapril

 

Angiotensin II reseptor antagonis

Jenis obat ini menghambat produksi angiotensin II,  Diberikan kepada pasien jika pasien mengalami batuk akibat pemberian Ace Inhibitor

Candesartan (Blopress, Blopress Plus)

Irbesartan (Aprovel,CoAprovel,Fritens,Iretensa,Irvel, )

Losartan (Cozaar,Acetensa,Angioten,Insaar,Tensaar,Sartaxal)

Olmesartan (Olmetec)

Telmisartan (Micardis, MicardisPlus)

Valsartan (Diovan,Co-Diovan)

Exforge (kombinasi :Amlodipin + Valsartan).

 

Diuretik

Aldosteron Antagonis

Obat ini akan memblokir reseptor aldosteron di : Jantung, ginjal, otak, dinding pembuluh darah, obat ini akan mengakibatkan sering kencing, berkeringat yang akan membawa lebih banyak garam dan air keluar dari tubuh, sehingga volume  darah berkurang dan berakibat turunnya tekanan darah

Spironolactone (Aldactone,Aldazide,Carpiatone,Letonal,Spirola,Spirolacton)

Thiazides

Merupakan diuretik pada tahap awal, namun jangka panjang dapat melebarkan dinding pembuluh darah, mekanismenya belum jelas. Efek samping, impotensi

Chlorthalidone (hygroton)

Chlorthiazide (Diuril)

H.C.T (hyrochlorthyazide)

Triamterene (maxzide)

Centrally acting adrenergic drugs

Obat ini akan merangsang reseptor alha di otak yang meyebabkan dinding arteri melebar, berakibat turunnya tekanan darah. Obat ini hanya dipakai apabila obat lain gagal.

Clonidine (Catapress)

Guanabenz

Methyldopa (Dopamet)

Adrenergic neuron blockers

Guanethidine

Moxonidine (Physiotens)

Reserpine (Ser-ap-es,Serpasil,Dellasidrex,

Golongan Lain

Aliskiren (Rasilez)

Ingin Tahu lebih jauh : Klik Disini

Anak pun Bisa Terkena Hipertensi

Saturday, December 13th, 2008

Anak pun Bisa Terkena Hipertensi

Ah masa sih anak saya menderita hipertensi, kan masih kecil?Hal ini dilontarkan secara spontan oleh Ibu Neny yang merasa ragu atas hasil diagnosa mengenai apa yang diderita anaknya yang baru duduk dibangku kelas 2 SD. Pendapat ibu Neny ini mungkin juga merupakan pendapat sebagaian besar masyarakat, bahwa hipertensi (tekanan darah tinggi) itu merupakan penyakitnya orang dewasa atau mereka yang telah berusia lanjut. Terdapat sekitar 1 sampai 3% anak-anak menderita hipertensi. Pada orang dewasa jumlah yang menderita hipertensi jauh lebih besar, dimana satu dari empat orang dewasa menderita hipertensi.Hipertensi pada anak-anak perlu mendapat perhatian serius, mengingat komplikasinya pada organ tubuh lain sangat besar, seperti pembengkakan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, gangguan penglihatan sampai dapat terjadinya kebutaan. Sama seperti halnya orang dewasa, hipertensi pada anak-anak ada dua macam yaitu hipertensi primer atau hipertensi esensial, dimana penyebabnya tidak jelas. Kemudian, hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang sebabnya diketahui, seperti ginjal penyebab tersering (infeksi ginjal, penyempitan pembuluh arteri ginjal/ stenosis arteri renalis, penyakit auto imun), kelainan jantung dan pembuluh darah seperti (koartasio aorta) dan sebagainya.Faktor risiko terjadinya hipertensi pada anak-anak yaitu obesitas (kegemukan), kurang aktivitas, konsumsi garam, lemak dan gula berlebihan, alkohol dan merokok, minum obat-obat kortikosteroid, bapak ibu perokok dan faktor keturunan.Umumnya tanpa keluhan, namun pada kondisi tertentu dapat saja terdapat keluhan, seperti mimisan, penglihatan tiba-tiba menurun, mual-mual disertai sakit kepala yang tidak tahu sebabnya, berat badan yang tidak naik, sesak nafas dan nyeri dada, makan minum tidak ada nafsu serta pertumbuhan dan perkembangan yang terlambat.Beberapa ahli dan organisasi hipertensi internasional menganjurkan agar anak anak mulai usia 3 tahun dilakukan pengukuran tekanan darah setahun sekali untuk mengetahui ada tidaknya hipertensi agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Sehingga pembengkakan jantung, gagal ginjal, gangguan saraf dan kebutaan dini pada anak kita sebagai generasi penerus bangsa dapat dihindari.(Ingintahu lebih lanjut, Klik disini). Sumber : Dr. H.M. Edial Sanif, Sp.JP., FIHA. Mitra Dialog. Desember, 2008.

animasi

Sunday, July 20th, 2008

animasijantung

Anggapan salah tentang hipertensi

Sunday, July 20th, 2008

Masih banyak masyarakat yang mempunyai anggapan yang salah tentang hipertensi, Sehingga perlu kiranya diinformasikan dan dijelaskan keadaan sebenarnya supaya dampak negatif tersebut tidak merugikan masyarakatAdapun anggapan salah sebagian masyarakat terhadap hipertensi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jika kepala sakit dan rasa pegal ditengkuk maka tekanan darah pasti naik, jika tidak ada keluaha atau gejala apa-apa maka tekanan darah normal.
Fakta : Mereka yang menderita hipertensi justru sebagian besar tanpa adanya keluhan atau gejala. Tanda atau gejala yang dialami seseorang yang menderita hipertensi adalah sangat individual. Bahkan sering ditemukan mereka yang tekanan darahnya normalpun dapat saja mengalami sakit kepala dan rasa pegal ditengkuk.
2. Tekanan darah yang tinggi pada orang tua masih dianggap wajar. Misalnya jika seseorang yang berusia 80 tahun, maka tekanan darah 180mmHg sistolik masih dianggap wajar. (180 didapat dari umur 80 + 100 = 180).
Fakta : Definisi hipertensi sekarang adalah jika tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90mmHg, Tekanan darah antara 120/80 sampai dengan 139/89mmHg disebut sebagai tekanan darah prehipertensi. Sedangkan yang disebut tekanan darah normal adalah tekanan darah dibawah 120/80mmHg. dan tekanan darah optimal adalah 115/75mmHg. Apabila yang bersangkutan menderita diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal, maka Tekanan darah 140/90mmHG sudah merupakan hipertensi dan sudah harus diobati. Jadi anggapan bahwa tekanan darah yang tinggi pada orang tua adalah wajar adalah salah.
3. Jika kedua orang tua tidak ada yang menderita hipertensi, maka anak2-nya pasti tidak ada yang menderita hipertensi.
Fakta : Faktor keturunan hanya sekitar 20% berperan untuk terjadinya hipertensi, sebagian besar justru tidak terdapat riwayat keluarga yang menderita hipertensi. Jadi faktor pola hidup seperti, pola makan, merokok, stress, kurang olahraga, obesitas, konsumsi garam yang berlebih justru lebih berperan dalam terjadinya hipertensi.
4. Obat anti hipertensi itu untuk individu yang satu dengan yang lain itu sama saja, artinya jika kebetulan saya kehabisan obat anti hipertensi, maka saya bisa saja minum obat anti hipertensi teman saya yang juga menderita hipertensi.FAKTA : Pengobatan hipertensi adalah sangat individual, artinya masing- masing orang bisa sama atau berbeda sama sekali jenis obat hipertensi. Hal ini sangat tergantung dari usia, berat ringannya hipertensi, penyakit penyerta dan lain sebagainya. Jadi obat hiertensi seseorang belum tentu sama dengan orang lainnya.
5. Jika tekanan darah sudah normal, maka obat anti hipertensi dihentikan saja.
Fakta : Hanya mereka yang menderita hipertensi ringan saja, tekanan darah dapat menjadi normal dengan memodifikasi faktor risiko, seperti : diet rendah garam, stop merokok, mengendalikan diabetes, menurunkan berat badan bagi mereka yang gemuk, olah raga secara teratur, menghindari stress dan lain sebagainya. Sedangkan bagi mereka dengan hipertensi sedang sampai berat, tekan darah dapat normal hanya apabila minum obat disamping memodifikasi faktor risiko tersebut diatas. Jadi bagi mereka yang menderita hipertensi sedang sampai berat harus minum obat secara terus menerus, jumlah dan dosis obat mungkin dapat dikurangi atau diturunkan tapi tidak distop samasekali, apabila obat dihentikan maka umumnya tekanan darah akan naik kembali.
6. Obat hipertensi itu racun, jadi tidak usah diminum.
Fakta : Hasil survey menunjukkan, bahwa mereka yang minum obat hipertensi jauh lebih baik dibanding mereka yang tidak minum obat. Artinya efek samping obat lebih kecil dibanding efek samping dari hipertensi itu sendiri. Jika hipertensi diobati, hasil survey membuktikan bahwa kejadian stroke dapat diturunkan 30 – 35%, kejadian serangan jantung turun sebesar 20% dan kejadian gagal jantung turun hampir 50%.
7. Tidak usah minum obat hipertensi,karena bisa menyebabkan impotensi.
Fakta : Impotensi atau biasa disebut disfungsi ereksi, yaitu ketidakmampuan memulai atau mempertahankan tetap tegak atau tegangnya penis untuk beberapa saat. Agar penis dapat ereksi diperlukan aliran dan tekanan darah yang cukup ke penis. Bagi mereka yang hipertensi, penis sudah terbiasa dengan aliran dan tekanan darah yang tinggi agar dapat tetap tegak atau tegang. Jika tekanan darah diturunkan maka aliran dan tekanan darah kepenis juga turun dan hal ini akan menyebabkan penurunan fungsi ereksi penis. Jadi apapun jenis obat hipertensi dan obat tersebut dapat menurunkan tekanan darah, maka obat tersebut juga akan menurunkan fungsi ereksi. memang ada beberapa jenis obat disamping menurunkan tekanan darah juga mengganggu fungsi saraf tertentu dipenis, sehingga disfungsi ereksinya lebih berat. penurunan fungsi ereksi ini umumnya bersifat sementara sampai terjadinya penyesuaian penis terhadap tekanan darah yang normal. disamping itu apabila obat tersebut dihentikan pemakaiannya maka fungsi ereksi juga akan kembali normal. (ingin tahu lebih lanjut : klik disini).

Lihat presentasi : klik disini